Bagaimana Menghentikan Madrid di Final Liga Champions

Pada tahun 2018 dua musim terakhir, Madrid tampil superior, atraktif dan juga menjadi sang juara. Kemenangan yang dimiliki oleh mereka sebagai klub tersukses di Eropa yang dibuktikan melalui tiga gelar dalam empat tahun terakhir. Los Blancos merupakan klub pertama yang mempertahankan gelar juara setelah Liga Champions Eropa berganti format pada tahun 1992. Pada musim 2018, Madrid yang menjadi unggulan paling teratas, menempati grup yang lumayan keras, bersama dengan Borussia Dortmund dan juga Tottenham Hotspur, Madrid hanya mampu lolos sebagai runner up. Ditahan imbang oleh Spanyol dan kalah di Wembley oleh Spurs serta penampilan angin-anginan di La Liga, menyingkirkan mereka dari daftar favorit juara.

Tapi Real Madrid adalah Real Madrid. Deretan piala di lemari mereka menjelaskan jati dirinya, angka tahun yang tertera di piala tersebut menerangkan bahwa kejayaan mereka tidak sekadar berasal dari masa lalu, melainkan terus menerus, persisten. Fase knock out pertama berhadapan dengan juara Prancis PSG, klub yang bermimpi menjadi juara Agen Sbobet Terpercaya Eropa, berinvestasi triliunan rupiah pada pengembangan bakatnya dan sedang berada dalam tren positif. Tapi nyatanya, PSG kalah di Madrid maupun Paris. Para pengamat langsung sepakat mengatakan faktor mental, ini kompetisi tertinggi para juara, butuh proses bertahun-tahun, uang bertumpuk-tumpuk tak akan bisa mengadali waktu. 

 

Mempertemukan Los Blancos

Juventus v Real Madrid: 5 talking points ahead of Turin clash - AS.com

Undian berikutnya mempertemukan Los Blancos dengan penguasa Italia, ini partai ulangan final musim lalu. Dipimpin Gianluigi Buffon yang juga menjadi pemimpin tim Italia yang gagal lolos ke Piala Dunia, optimisme tinggi berada di pihak Putih Hitam, ini tahun terakhir sang kapten. Siapa yang menduga, pertahanan Juve yang terkenal rapi dan lugas menjadi berantakan menghadapi serbuan juara bertahan dan mereka menderita kekalahan memilukan, skor 0-3 bukan skor yang bisa diterima publik Italia yang sedang sensitif. Dua pekan selanjutnya, orang-orang beranggapan bahwa pertandingan ini sudah selesai dalam pertemuan pertama. Namun, keajaiban di Roma sehari sebelumnya membangkitkan semangat. Jika AS Roma, tim tanpa harapan juara di Italia mampu membalikan ketinggalan pada Barcelona sang juara Spanyol, kenapa Juve yang mendominasi Italia bermusim-musim tidak mampu melakukannya pada Madrid yang angin-anginan di La Liga. Juventus benar-benar mengejutkan. Mencetak tiga gol dalam tempo satu jam, dan menampilkan pertandingan yang layak ditonton. 

 

Kabar Mulai Menyebar

Kabar menyebar, penonton di sudut terpencil kolong langit pun mulai menyalakan tv, streaming, dan sebagainya untuk menjadi saksi atas comeback brilian lainnya, dan tidak tanggung-tanggung, menjungkalkan Madrid di Bernabeu. Menit 90+6 Pinalty! Buffon mengamuk dan di kartu merah. Penonton bubar dan mencoba kembali tidur dalam kekecewaan dan pertanyaan kenapa wasit begitu jeli melihat pelanggaran dan dengan teguh menunjuk titik putih, kenapa wasit tidak memberikan Buffon kesempatan untuk memenangkan Liga Champions di musim terakhirnya, toh dia sudah tidak akan nongol di Piala Dunia. 

Juventus v Real Madrid: Where will the game be won and lost? | MARCA in English

Semifinal, giliran jagoan tangguh asal Jerman, FC Bayern. Oh, pasti inilah akhir petualangan Madrid. Bayern adalah mesin tak berperasaan, mental juara tertanam dalam di ampela mereka dan Die Roten sudah lima kali menjuarai turnamen ini, serta baru saja memastikan gelar ke 28 Bundesliga, semuanya adalah alasan kenapa Madrid akan tersingkir. Bersama pelatih sepuh yang kembali dari ‘libur’ tiga musim dengan tujuan mengembalikan kekuasaan Bayern di Eropa. Harus diingat, orang ini yang membawa Bayern meraih treble winner pada 2013. Jupp Heynckes mengatakan bahwa dia ingin pertandingan terakhirnya melawan Liverpool yang dilatih Jurgen Klopp sebelum benar-benar pensiun. Tidak salah lagi, ini klub yang pantas mengalahkan Madrid. Optimisme menyeruak bahwa kali ini akhir nyata bagi sang juara bertahan.

 

Pertandingan yang Berjalan Lancar

Pertandingan di Allianz Arena berjalan sesuai prediksi, Bayern mendominasi dan mengancam. Namun pemenang pertandingan sepak bola ditentukan oleh jumlah gol, bukan jumlah tendangan ke arah gawang atau penguasaan bola, dan itulah yang dilakukan Madrid. 

Payah memang, minim serangan dan bahkan pemain sekelas Cristiano melakukan tendangan yang disebut-sebut terburuk sepanjang karirnya, bola ditendang dari luar kotak penalti, sudut tembak yang sudah ditutup oleh pemain belakang Munchen namun bola keburu meluncur, terus tidak mengenai apapun siapapun, melewati jangkauan kiper dan terus bergulir di rumput menuju garis sisi lapangan menghasilkan lemparan ke dalam, sama sekali bukan ancaman. Tapi Madrid tidak butuh Ronaldo, mereka hanya butuh satu atau dua kesalahan untuk memberikan kekalahan pada jagoan Jerman itu di kandang mereka sendiri. Memasuki leg kedua, The Bavarian tahu kesalahannya, bertekad memperbaikinya, karena selama Anda bisa menciptakan peluang, maka jumlah gol masih bisa dikejar. Tapi Madrid sedang butuh kemenangan, karena rival mereka, Barcelona baru saja diresmikan menjadi juara La Liga. Laga yang menjanjikan, tidak akan sia-sia begadang untuk menyaksikannya. 

 

Hasil dari Pertandingan

Hasilnya, dan prosesnya kurang lebih sama dengan pertemuan pertama minggu sebelumnya, Madrid ditekan habis-habisan, dan sekali lagi, kesalahan di lini belakang dilakukan, sebuah kesalahan dalam mengambil keputusan dan kegugupan dalam mengoper yang memberikan kesempatan untuk Benzema menunjukkan kemampuannya mencetak gol di gawang kosong. Luar biasa, ketajaman Benzema kembali. Penonton kembali kecewa, menyalahkan diri mereka sendiri kenapa harus kembali dikecewakan keputusan wasit. Pelanggaran terhadap Lewandowski dan Marcelo Handball, kenapa wasit kali ini tidak melihatnya? Dan kenapa Keylor Navas menjadi sehebat David De Gea??

Madrid jadi punya alasan mengadakan pesta dan bisa tetap menegakkan kepalanya menatap musim depan. Biarkan liga menjadi milik Barcelona, tapi mereka menatap final ketiga beruntungnya. Prestasi yang tidak bisa diremehkan dalam era modern, walaupun mereka belum pernah merasakan treble winner, (sekelas Inter pun sudah) tapi tiga trofi Liga Champions beruntun tentu gengsi yang jauh lebih besar, sejarah pecah !. Empat puluh dua tahun sudah sejak Bayern Munchen sebagai tim terakhir yang melakukannya.

 

Penantang Los Blancos

Jadwal di Kiev sudah ditentukan. Penantang Los Blancos kali ini bukan juara liga, lama sudah sejak terakhir kali mereka mengangkat silverware liga domestik. Penampilannya di liga cukup mengesankan, seringkali menampilkan semangat tempur yang luar biasa dan terkadang mengalami kekalahan mengenaskan. Penampilan mereka di perempat final UCL paling dikenang, menghadapi tim yang lebih diunggulkan dan sedang dalam grafik yang bagus, Manchester City yang hanya menghitung hari sebelum dinobatkan menjadi juara liga Inggris, mengalahkannya di dua pertemuan. Tapi Liverpool juga adalah klub pertama yang memberikan The Citizens kekalahan dan kekalahan di Liga Inggris. 

Jika itu tidak terlalu mengesankan, maka kembali lagi pada pertandingan di fase knock out pertama, Porto dihancurkan lima gol tanpa balas di Estádio do Dragão. Masih kurang mengesankan? Roma dan keajaiban sepak bola Italia dihentikan. Statistik golnya terbaik di musim ini, trio Firmino-Mane-Salah mencetak gol lebih banyak daripada yang bisa dilakukan Benzema-Bale-Cristiano dalam satu musim kompetisi. Tetap tidak mengesankan, karena statistik tidak berpengaruh pada Madrid.