Beginilah Kisah Mencengangkan Pesepakbola di Dunia

Masih banyak orang yang belum mengetahui deretan kisah yang sangat menarik mengenai pesepakbola yang ada di dunia. Kisah-kisah yang akan membuat kita seakan tidak mempercayainya, karena seorang superstar sepakbola pernah menjalankannya. Sebagai pesepakbola memang sangat wajar jika di masa lalu mereka ini memiliki kisah yang menarik yang akan selalu mereka kenang seumur hidupnya. Seperti sosok seorang penyerang yang berasal dari Belanda yang juga jadi seorang legenda dari Arsenal, Dennis Bergkamp. Siapa yang dapat menyangka kalau Bergkamp yang sangat menakutkan kalau di depan gawang lawan justru ia takut harus menaiki pesawat terbang. Masih banyak lagi kisah-kisah menarik para pesepakbola dunia. Berikut ini ada beberapa kisah menarik dari pesepakbola yang jarang orang ketahui. Berikut diantaranya.

 

Bela Klub Mafia

Legenda yang hidup di Real Madrid, yap Alfredo Di Stefano yang ternyata dalam perjalanan karirnya ia ini sempat membela klub di dunia oleh gembong narkotika asal Kolombia. Klub tersebut adalah Millonarios. Di Stefano membela Millonarios pada tahun 1949 hingga tahun 1953. Di klub tersebut ia menjalani 102 laga dan cetak 90 gol. Penampilan impresifnya bersama Millonarios membuatnya dilirik oleh Real Madrid. Di Stefano pun hijrah ke Real Madrid dan jadi legenda. Keputusan Di Stefano untuk membela Millonarios sempat membuat banyak orang mengkritiknya. Padahal sebelumnya Di Stefano membela klub River Plate dan banyak klub besar Argentina ingin merekrutnya. Tawaran uang besar jadi alasan utama Di Stefano membela Millonarios. Millonarios ialah klub yang berdiri pada 18 Juni 1946, klub ini adalah klub terbesar di Kolombia era 50-an. Klub ini sempat mendapat sokongan dana dari para gembong narkotika asal Kolombia. 

 

Phobia Ketinggian

Bagi fans Arsenal sosok Dennis Bergkamp adalah legenda hidup. Menjalani karirnya di tim Meriam London pada 1995 hingga 2006, Bergkamp tercatat bermain sebanyak 315 dan mencetak 87 gol. Pribadinya yang tenang serta pembawaannya yang begitu menakutkan jika di gawang lawan justru berbanding terbalik dengan sifat penakutnya akan ketinggian. Bergkamp memang seorang yang memiliki phobia ketinggian. Ia tak pernah mau naik pesawat terbang jika Arsenal lakukan pertandingan tandang. Tak heran ia banyak absen di laga Arsenal di luar Inggris. Ia pun mendapat julukan ‘Non Flying Dutchman’. 

Saat masih membela Ajax, Bergkamp padahal tak miliki phobia ini. Semua itu bermula saat Belanda akan jalani laga uji coba jelang Piala Dunia 1994. Pesawat yang ditumpangi timnas Belanda termasuk Bergkamp di dalam alami kerusakan mesin. Ditambah saat itu seorang wartawan menyebut di dalam pesawat terdapat bom. Usai itu ia tak pernah lagi mau naik pesawat. “Aku punya masalah dengan itu. Aku tidak bisa terbang, aku hanya membeku, aku panik dan sulit untuk mengatasinya,” kata Bergkamp. 

 

Sosok Cavanova

Jika saat ini Cristiano Ronaldo dikenal sebagai sosok playboy yang sering gonta ganti kekasih maka di era 90-an pecinta pesepakbola mengenal akan sosok kiper Inter Milan, Gianluca Pagliuca. Level Pagliuca melebih Ronaldo yang hanya disebut playboy. Ia adalah sosok casanova. Casanova sendiri berasal dari seorang penulis kenamaan Italia, Giacomo Casanova. Ia hidup di era 1825 hingga 1989, sebagai seorang penulis, Casanova dikenal memiliki pengalaman seks dengan banyak perempuan dan sering mengatakan hal tersebut di muka umum. 

Cristiano Ronaldo: Juventus forward recovers from coronavirus | Football  News | Sky Sports

Hal itu-lah yang dilakukan oleh Gianluca Pagliuca. Pagliuca sempat menyebut bahwa ia keranjingan dengan tubuh perempuan yang seksi. Kabar menyebutkan kiper yang bermain sebanyak 168 laga untuk Inter Milan itu telah tidur bersama 100 perempuan lebih dalam hitungan tahun. Hebatnya lagi kisah petualangan seks Pagliuca tersimpan rapi tanpa satupun perempuan yang pernah ditiduri Pagliuca mengumbarnya ke media. 

 

Kacang Tidak Lupa Kulit

Sudah terlalu banyak cerita yang menceritakan bagaimana deretan pesepakbola dunia banyak menggelontorkan uangnya untuk menyumbang kepada mereka yang tak mampu. Sebut saja Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo yang dikenal memiliki sisi dermawan. Ada kisah menarik terkait Ronaldo, superstar Portugal ini ternyata bukan sosok superstar yang tak mengerti istilah kacang lupa akan kulitnya. Pada saat kecil, Ronaldo pernah bermain bersama salah satu klub junior yang ada di Portugal. Suatu hari, klub tersebut kedatangan scout (pencari bakat) dari Sporting Lisbon (salah satu klub terkuat dan terbesar di Portugal) untuk mencari bakat di klub tersebut. Kebetulan di klub tersebut, hanya ada 2 orang yang bersinar yakni CR7 beserta temannya yang bernama Albert Frantau. 

Lionel Messi 'tired of always being the problem' at Barcelona | Football  News | Sky Sports

Mereka pun mengadakan pertandingan dengan dipantau oleh pencari bakat dari Sporting Lisbon. Ronaldo cetak dua gol, Frantau cetak 1 gol. Menariknya, dari gol kedua yang dicetak Ronaldo, berasal dari assist Frantau. Padahal sebelum beri assist, Frantau tinggal menceploskan bola ke gawang yang sudah tidak lagi dijaga kiper lawan. Usai laga, Ronaldo ditarik ke Sporting sementara Frantau tidak. Tahun berganti, Ronaldo menjelma jadi superstar bertabur kekayaan. Apa yang terjadi dengan Frantau? ia tetap hidup mewah meski tak bermain sepakbola, usut punya usut Ronaldo yang banyak memberi ia bantuan secara finansial. Ronaldo tahu betul bagaimana arti balas budi. 

 

Isu Penyuka Sesama Jenis

Alessandro Del Piero sempat diisukan sebagai seorang penyuka sesama jenis. Pasalnya pada 90an sempat tersebar foto Del Piero tengah ‘bermesraan’ dengan seorang pria tampan. Isu itu semakin kencang berhembus karena Del Piero tak mau mengklarifikasi ke media terkait hal tersebut. Cukup lama Del Piero bungkam ke media terkait isu itu. 

Setelah cukup lama digosipkan sebagai penyuka sesama jenis, Del Piero baru memberi klarifikasi bahwa pria yang ada di dalam foto tersebut adalah kakak kandungnya, Stefano Del Piero. Keduanya saat itu memang tengah berlibur dan Stefano tengah mengoleskan cream ke punggung Del Piero. Memiliki wajah yang tidak terlalu mirip membuat rumor penyuka sesama jenis semakin melekat keduanya. 

 

Pendukung Zapatista

Gerakan Zapatista adalah kelompok revolusioner bersenjata yang bermarkas di Chiapas, salah satu provinsi termiskin di Meksiko. Basis anggota mereka sebagian besar adalah masyarakat adat, tapi mereka juga mempunyai pendukung dari wilayah perkotaan seperti halnya dukungan jaringan internasional.  Zapatista mengangkat senjata bukan untuk merebut kekuasaan, tapi untuk menciptakan sebuah ruang demokratis dimana pertentangan antar pandangan politik yang berbeda-beda bisa dibicarakan. 

Dia adalah eks kapten Inter Milan, Javier Zanetti dikenal sebagai sosok pesepakbola terkenal yang mendukung gerakan ini. Zanetti tercatat banyak memberikan dukungan finansial kepada gerakan ini. Banyak sosok Zanetti pun dianggap sosok luar biasa bagi gerakan Zapatista. Bagi Zanetti, sosok Subcomandante Marcos adalah sosok yang dapat mengembalikan harkat dan derajat kaum papa. 

 

Pro dengan Komunis

Selain Zanetti, sosok Diego Maradona juga dikenal sebagai pesepakbola yang memiliki perhatian lebih kepada gerakan perlawanan Komunis. Ia tercatat sebagai kawan akrab beberapa pemimpin Amerika Selatan yang beraliran Komunis, seperti Fidel Castro, Evo Morales serta (alm) Hugo Chavez. Bahkan muka Fidel Castro diabadikan Maradona menjadi tato di bagian tubuhnya. 

Keakraban mereka tak hanya sekedar karangan media. Beberapa kali, Maradona diundang oleh para pemimpin dunia tersebut untuk sekedar menikmati jamuan makan malam, begitu juga sebaliknya, Maradona pun beberapa kali mengundang para pemimpin dunia tersebut untuk menonton sepakbola di kandang Boca Juniors, klub kebanggaan Maradona. 

Klub Sepak Bola Mendapat Gelar Juara Liga Champions Terbanyak

Liverpool baru saja memenangkan Champions League musim 2018 hingga 2019. Mereka berhasil memenangkan gelar ini setelah di final mengalahkan sesama klub Inggris Tottenham Hotspur. Dengan ini Liverpool berhasil menjadi juara UCL untuk keenam kalinya sejak kompetisi antarklub Eropa tersebut diselenggarakan dari tahun 1955. 

Keberhasilan Liverpool ini menjadikan klub ini sebagai salah satu klub dengan gelar juara UCL terbanyak. Namun ada klub-klub lain yang juga punya gelar banyak. Klub mana saja? Simak daftarnya di bawah ini.

 

Real Madrid Juara 13 Kali

Real Madrid adalah klub sepak bola yang paling banyak memenangkan kejuaraan UEFA Champions League hingga sampai saat ini. Luar biasanya klub ini berhasil menjadi juara lima kali berturut saat ajang  baru dibuka pada 1955. Mereka juga berhasil menjadi klub yang juara tiga kali berturut sejak ajang tangkasnet android ini berubah nama dari European Champion Clubs’ Cup menjadi UEFA Champions League.

Real Madrid: This gum can't be stretched any more | MARCA in English

Tahun juara: 1956, 1957, 1958, 1959, 1960, 1966, 1998, 2000, 2002, 2014, 2016, 2017, 2018.

 

AC Milan Juara 7 Kali

Zlatan Ibrahimovic: After reaching 500 goal milestone, can 39-year-old lead AC Milan to Serie A title? | Football News | Sky Sports

AC Milan adalah klub dengan gelar juara terbanyak UCL di tempat kedua. Klub ini sempat berhasil memenangkan gelar juara dua kali berturut pada tahun 1989 dan 1990. Gelar juara UCL terakhir mereka raih pada tahun 2007. Tahun juara AC Milan : 1963, 1969, 1989, 1990, 1994, 2003, 2007.

 

Liverpool Juara 6 Kali

Liverpool 2020/21: What will be the target for Jurgen Klopp and the Reds this season? | Football News | Sky Sports

Liverpool baru saja memenangkan gelar juara UCL terbaru untuk musim 2018/19 dan menambah koleksi juara menjadi enam gelar. Hal ini membuat mereka menempati posisi ketika di daftar ini. The Reds telah menjuarai Piala Eropa pada tahun 1980 hingga 1981 dengan mengalahkan Real Madrid dengan skor 1-0 di Parc des Princes, Paris, Prancis, tanggal 27 Mei 1981. Dalam perjalanan menuju ke final, Liverpool menang sebanyak enam kali dan juga imbang tiga kali. Liverpool kemudian melakukannya lagi pada tahun 1983 hingga 1984 dengan tujuh kemenangan dan dua kali imbang. Tahun juara dari Liverpool : 1977, 1978, 1981, 1984, 2005, 2019.

 

Barcelona Juara 5 Kali

Barcelona adalah klub Spanyol kedua dalam daftar ini. Gelar pertama Barcelona diraih pada tahun 1992 atau 37 tahun setelah ajang ini dimulai. Dan setelah itu mereka mulai dikenal sebagai salah satu klub yang merajai eropa terutama dari era 2000-an sampai sekarang.

Barcelona FC T Shirt 2015

Klub Catalan ini bermaterikan pemain “dewa” seperti Ronaldinho dan sosok penuh berpengalaman macam Mark van Bommel ketika menjuarai Liga Champions pada musim tahun 2005 hingga 2006. Ada pula penyerang Samuel Eto’o, gelandang cerdas Deco, dan kapten Carles Puyol. Sementara di bangku cadangan ada Xavi dan Andres Iniesta yang kemudian hari menjadi duo sentral di lini tengah Barcelona. Pelatih Barcelona ketika itu Frank Rijkaard. Dalam perjalanan menuju ke final di Stade de France di Saint Dennis, Prancis, 17 Mei 2006, Barcelona mencatat sembilan kali menang dan empat kali imbang. Pada partai final, Barca harus rela kehilangan penyerang Lionel Messi. Namun, itu sudah cukup untuk menundukkan Arsenal 2-1 dan keluar sebagai juara.

Tahun juara Barcelona : 1992, 2006, 2009, 2011, 2015.

 

Bayern Munich Juara 5 Kali

Bayern Munich merupakan salah satu klub yang paling perkasa di ajang UCL. Mereka pernah berhasil menjadi juara 3 kali berturut di tahun 1974-76. Gelar juara UCL terakhir mereka diraih pada tahun 2013. Bayern menemani Barcelona di tempat keempat sebagai klub dengan gelar UCL terbanyak.

FC Bayern Shirt Home Triple Edition | Official FC Bayern Munich Store

Tahun juara: 1974, 1975, 1976, 2001, 2013.

 

Ajax Amsterdam Juara 4 Kali

Klub Belanda ini menjuarai Liga Champions tanpa kalah dua kali. Pertama dilakukan pada era anak emas Johan Cruyff. Ajax menjuarai Piala Champions 1971-1972 dengan mengalahkan Inter Milan 2-0 di Stadion De Kuip, Rotterdam. Cruyff memborong semua gol sehingga dinobatkan sebagai man of the match. Pada musim ini, Ajax juara dengan mencatat tujuh kemenangan dan dua imbang.

Ajax kemudian merebut trofi kedua Liga Champions dengan menyisihkan juara bertahan, AC Milan, 1-0 di Wina, Austria, pada 24 Mei 1995. Ajax melaju ke final dengan catatan tujuh kali menang dan empat kali imbang. Ketika itu, tim yang diasuh pelatih Louis van Gaal ini disebut “The Dream Team” pula. Bahkan skuad Ajax 1994-1995 benar-benar penuh pemain kelas satu dari tim inti hingga cadangan. Skill mereka pun merata. Sebut saja Frank Rijkaard, Edwin van der Sar, Danny Blind, Clarence Seedorf, Edgar Davids, Jari Litmanen, dan Marc Overmars. Sementara Patrick Kluivert menjadi cadangan sekaligus supersub yang mencetak gol tunggal kemenangan ke gawang Milan. Kecuali Rijkaard yang pulang ke Ajax setelah memperkuat Milan pada 1993, sejumlah pemain Ajax di atas kemudian berkarir di Liga Italia. Misalnya Van der Sar dan Edgar Davids yang pindah ke Juventus. Sementara Seedorf bergabung dengan Milan. Tahun juara : 1971, 1972, 1973, 1995.

 

Manchester United Juara 3 Kali

Klub Inggris ini juga dua kali meraih trofi Liga Champions tanpa kalah. Pertama pada musim tahun 1998 hingga 1999. Man United juara secara dramatis karena dua gol untuk mengalahkan Bayern Munchen 2-1 di Camp Nou, Barcelona, pada 26 Mei 1999, diraih secara dramatis. Bayern memimpin laga 1-0 sejak Mario Basler mencetak gol pada menit keenam. Namun, saat laga akan berakhir dua penyerang pengganti Man United menunjukkan taringnya.

Lahirnya Manchester United > Berita Manchester United

Penyerang gaek Man United Teddy Sheringham yang masuk lapangan pada menit ke-67 mencetak gol penyeimbang tepat pada menit ke-90. Gol itu melecut semangat Man United sekaligus meruntuhkan mental Bayern. Pada masa injury time ketiga, giliran Ole Gunnar Solskjaer kini pelatih Man United mencetak gol kemenangan. Gelar Liga Champions pun melengkapi dua trofi lainnya di kompetisi domestik, trofi Liga Inggris dan Piala FA. Untuk merebut piala Liga Champions 1998-1999, Man United mencatat lima kemenangan dan enam imbang. Man United kembali harus merebut trofi Liga Champions dengan dramatis pada 2007-2008.  Piala harus direbut melewati adu penalti. Lawan yang dihadapi dalam partai final di Moskow, Rusia, 21 Mei 2008, adalah Chelsea. Man United merebut piala trofi Liga Inggris dari Chelsea pada musim 2006 hingga 2007. Man United yang masih ditangani legenda Sir Alex Ferguson melaju ke final di Moskow dengan melakoni sembilan kemenangan dan empat imbang. Partai final berlangsung sangat ketat. Maklum, Chelsea sedang diperkuat barisan pemain terbaik masa itu meski ditangani pelatih pengganti Jose Mourinho nan tidak populer, Avram Grant.

Cristiano Ronaldo membawa Man United unggul dengan sundulan kepala pada menit ke-26. Frank Lampard membalasnya untuk Chelsea pada akhir babak pertama. Skor 1-1 terus bertahan hingga 30 menit extra time selesai. Pertandingan pun harus dilanjutkan ke adu penalti. Lagi-lagi adu penalti pun berlangsung sama-sama kuat. Ronaldo gagal mencetak gol dari titik putih. Sementara kapten Chelsea, John Terry, terpeleset sesaat sebelum mengeksekusi penalti sehingga skor terus sama sampai harus melibatkan tujuh eksekutor penalti. Pada momen terakhir, algojo pamungkas Chelsea Nicolas Anelka gagal menjalankan tugasnya. Bola sepakan pemain Prancis ini dimentahkan kiper Edwin van der Sar. Tahun juara : 1964, 1965, 2010.

Klub Sepakbola ini Menjadi Juara Liga Champions Tanpa Kalah Sekalipun

UEFA memulai Piala Eropa 65 tahun lalu, kemudian diganti dengan nama Piala Champions. Pada tahun 1992, UEFA me-rebranding menjadi Liga Champions. Sepanjang itu, ada beberapa klub yang pernah juara tanpa mengalami kekalahan. Mereka terbagi dalam dua periode. Beberapa klub tersebut adalah Liverpool, AC Milan, Ajax Amsterdam, Manchester United, Inter Milan, Red Star Belgrade, Nottingham Forest, Olympique Marseille, dan Barcelona.

Perbedaan mencolok di antara masa klasik dan modern adalah jumlah pertandingan atau peserta. Pada masa klasik, hanya klub juara kompetisi domestik yang bisa bertanding. Sementara pada masa modern, jumlah peserta membengkak lantaran bukan hanya klub juara liga domestik terutama di negara-negara utama Eropa yang boleh ikut main. Sedangkan ada empat klub yang sudah dijelaskan yang pernah menjadi juara dua kali.

Adapun Edwin van der Sar menjadi salah satu pemain pada era modern yang pernah menjuarai Liga Champions dua kali tanpa kalah. Bekas kiper Belanda ini melakukannya bersama Ajax dan Man United. Orang Prancis, Marcel Desailly, juga pernah dua kali melakukannya. Pertama, bek tengah yang pernah bermain untuk Chelsea ini melakukannya bersama Olympique Marseille. Kedua, bersama AC Milan. Berikut ada beberapa klub juara Liga Champions tanpa kalah

 

Liverpool 

Liverpool 2020/21: What will be the target for Jurgen Klopp and the Reds  this season? | Football News | Sky Sports

The Reds telah menjuarai Piala Eropa pada tahun 1980 hingga 1981 dengan mengalahkan Real Madrid dengan skor 1-0 di Parc des Princes, Paris, Prancis, tanggal 27 Mei 1981. Dalam perjalanan menuju ke final, Liverpool menang sebanyak enam kali dan juga imbang tiga kali. Liverpool kemudian melakukannya lagi pada tahun 1983 hingga 1984 dengan tujuh kemenangan dan dua kali imbang.

 

Inter Milan

Key Players At Antonio Conte's Inter Milan This Season

Klub Italia ini juga tidak terkalahkan saat menjuarai Piala Eropa 1963-1964 dengan tujuh kemenangan dan dua imbang. Bermain di Wina, Austria, 27 Mei 1964, Inter mengalahkan Real Madrid 3-1. Inter mengandalkan pertahanan gerendel nan termasyhur, catenaccio, ala sang pelatih Helenio Herrera.

 

Olympique Marseille

Saat menjuarai Liga Champions 1992-1993, Olympique Marseille mengalami periode “gelap”. Sang pemilik klub dari kota pelabuhan di Prancis ini, Bernard Tapie divonis bersalah dalam skandal pengaturan skor di Liga Prancis pada tahun 1992 hingga 1993. Marseille terbukti menyerahkan uang kepada Valenciennes agar bersedia kalah. Hasil itu membuat Marseille menjuarai Liga Prancis dan Valenciennes degradasi ke divisi dua.

Dimitri Payet sent off three minutes after scoring in Marseille draw -  Eurosport

Akibat skandal ini, gelar juara Liga Prancis milik Marseille dicabut dan mereka dihukum bermain di divisi dua (Ligue 2). Marseille juga dilarang bermain di kompetisi Eropa musim berikutnya. Namun, gelar juara Liga Champions yang pertama bagi Marseille pada 1992-1993 tidak terpengaruh. Mereka tetap sah menjadi juara Eropa. Marseille menjadi kampiun usai mengalahkan AC Milan 1-0 dalam laga final di Stadion Olympia, Munchen. Dalam perjalanannya, Marseille menang tujuh kali dan imbang empat kali. Bek tengah Marseille, Marcel Desailly, kemudian hari direkrut Milan dan mengangkat trofi Liga Champions lagi.

 

AC Milan

Klub Italia ini dua kali menjuarai Liga Champions tanpa kalah. Pertama adalah pada musim 1988-1989. Milan yang diperkuat trio Belanda nan terkenal serta ditangani pelatih hebat Arrigo Sacchi mengalahkan Steaua Bucharest 4-0 dalam laga final di Camp Nou, Barcelona, 24 Mei 1989. Empat gol Milan di gawang lawannya dari Rumania itu dibagi merata oleh dua bintang asal Belanda, playmaker Ruud Gullit dan striker Marco van Basten. Milan menjuarai musim 1988-1989 dengan mencatat lima kemenangan dan empat imbang. Berikutnya, Milan merajai Eropa pada musim 1993-1994 yang juga disebut sebagai salah satu periode emas mereka. Ketika itu, Milan yang disebut “Dream Team” ditangani pelatih bertangan dingin Fabio Capello. Dalam perjalanan menuju final, Milan meraih tujuh kemenangan dan lima imbang. Sementara dalam partai final, Milan harus tampil tanpa dua jenderal di jantung pertahanan, kapten Franco Baresi dan Alessandro “Billy” Costacurta. Namun, Milan tetap mampu mengatasi Barcelona 4-0 dalam partai final di Athena, Yunani.

Roma vs. Milan: Six Questions with AC Milan Offside - Chiesa Di Totti

Padahal, Barcelona ketika itu ditangani legenda asal Belanda, Johan Cruyff. Lini depan mereka diperkuat Hristo Stoichkov, di pertahanan ada Ronald Koeman, dan punya kiper hebat Andoni Zubizarreta yang menjalani musim terakhirnya bersama Barca. Empat gol Milan ke gawang Barcelona dicetak penyerang Daniel Massaro pada menit ke-22 dan 45, gelandang Dejan Savicevic pada menit ke-47, serta bek tengah Marcel Desailly pada menit ke-58.

 

Barcelona

Klub Catalan ini bermaterikan pemain “dewa” seperti Ronaldinho dan sosok penuh berpengalaman macam Mark van Bommel ketika menjuarai Liga Champions pada musim tahun 2005 hingga 2006. Ada pula penyerang Samuel Eto’o, gelandang cerdas Deco, dan kapten Carles Puyol. Sementara di bangku cadangan ada Xavi dan Andres Iniesta yang kemudian hari menjadi duo sentral di lini tengah Barcelona. Pelatih Barcelona ketika itu Frank Rijkaard.

FC Barcelona Suffers Likely Credential-Stuffing Attack on Twitter |  Threatpost

Dalam perjalanan menuju ke final di Stade de France di Saint Dennis, Prancis, 17 Mei 2006, Barcelona mencatat sembilan kali menang dan empat kali imbang. Pada partai final, Barca harus rela kehilangan penyerang Lionel Messi. Namun, itu sudah cukup untuk menundukkan Arsenal 2-1 dan keluar sebagai juara.

 

Manchester United

Klub Inggris ini juga dua kali meraih trofi Liga Champions tanpa kalah. Pertama pada musim tahun 1998 hingga 1999. Man United juara secara dramatis karena dua gol untuk mengalahkan Bayern Munchen 2-1 di Camp Nou, Barcelona, pada 26 Mei 1999, diraih secara dramatis. Bayern memimpin laga 1-0 sejak Mario Basler mencetak gol pada menit keenam. Namun, saat laga akan berakhir dua penyerang pengganti Man United menunjukkan taringnya.

Is this Manchester United's new kit? Design 'leak' online sparks debate -  Irish Mirror Online

Penyerang gaek Man United Teddy Sheringham yang masuk lapangan pada menit ke-67 mencetak gol penyeimbang tepat pada menit ke-90. Gol itu melecut semangat Man United sekaligus meruntuhkan mental Bayern. Pada masa injury time ketiga, giliran Ole Gunnar Solskjaer kini pelatih Man United mencetak gol kemenangan. Gelar Liga Champions pun melengkapi dua trofi lainnya di kompetisi domestik, trofi Liga Inggris dan Piala FA. Untuk merebut piala Liga Champions 1998-1999, Man United mencatat lima kemenangan dan enam imbang. Man United kembali harus merebut trofi Liga Champions dengan dramatis pada 2007-2008.  Piala harus direbut melewati adu penalti. Lawan yang dihadapi dalam partai final di Moskow, Rusia, 21 Mei 2008, adalah Chelsea. Man United merebut piala trofi Liga Inggris dari Chelsea pada musim 2006 hingga 2007. Man United yang masih ditangani legenda Sir Alex Ferguson melaju ke final di Moskow dengan melakoni sembilan kemenangan dan empat imbang. Partai final berlangsung sangat ketat. Maklum, Chelsea sedang diperkuat barisan pemain terbaik masa itu meski ditangani pelatih pengganti Jose Mourinho nan tidak populer, Avram Grant.

Cristiano Ronaldo membawa Man United unggul dengan sundulan kepala pada menit ke-26. Frank Lampard membalasnya untuk Chelsea pada akhir babak pertama. Skor 1-1 terus bertahan hingga 30 menit extra time selesai. Pertandingan pun harus dilanjutkan ke adu penalti. Lagi-lagi adu penalti pun berlangsung sama-sama kuat. Ronaldo gagal mencetak gol dari titik putih. Sementara kapten Chelsea, John Terry, terpeleset sesaat sebelum mengeksekusi penalti sehingga skor terus sama sampai harus melibatkan tujuh eksekutor penalti. Pada momen terakhir, algojo pamungkas Chelsea Nicolas Anelka gagal menjalankan tugasnya. Bola sepakan pemain Prancis ini dimentahkan kiper Edwin van der Sar.

 

Pencetak Gol di Liga Champions yang Paling Banyak dan Masih Aktif Bermain

Para striker adalah para pemain yang pada akhirnya akan mencetak sebagian besar gol yang ada dalam kompetisi. Dengan begitu, para pemain ini akan mengambil sebagian besar yang ada pada kemuliaan dalam sepakbola. Puja puji adalah sebuah keniscayaan untuk seorang yang ada di pesepakbola yang sangat rajin untuk mencetak slot mpo. Mereka begitu yang sering mencetak gol akan sangat dihormati dan paling diutamakan oleh klub. Sebab sejatinya mencetak gol itu bukanlah pekerjaan mudah untuk dilakukan karena akan ada saja yang menghalangi langkah kalian untuk mencetak sebuah kemenangan. Berikut ini ada beberapa pesepakbola yang masih aktif dan menjadi yang paling banyak mencetak gol pada Liga Champions saat itu hingga 26 Oktober 2020. Kira-kira siapa saja ya mereka.

Luis Suarez – Atletico Madrid yang mencetak 30 gol

Luis Suarez telah membuktikan kepada dirinya sebagai salah satu penyerang yang paling mematikan, ia telah menghabiskan enam tahun lamanya untuk karirnya bersama Barcelona, dan ia telah mencetak 198 gol untuk Blaugrana, Suarez  yang saat ini berada di urutan yang ketiga dalam daftar pencetak gol yang paling terbanyak sepanjang masa dan untuk level pada tim Nasional, ia telah mencetak sebanyak 62 gol untuk Uruguay.

Pada penampilannya yang ada di Liga Champions terbatas selama masa tugasnya bersama Ajax dan Liverpool, waktu yang paling banyak dihabiskan ia paling banyak dengan Barcelona, hingga saat ini jumlah golnya sudah mencapai angka 30. Hal ini akan terus bertambah lagi, karena mengingat Atletico Madrid ini, pada musim ini masih akan berlaga di Liga Champions.

Edinson Cavani – Manchester United sudah mencetak 35 gol

Rekan yang senegara dengan Suarez, Edinson Cavani dalam daftar ini, sudah menempati pada posisi yang kesembilan di antara pencetak gol yang aktif pada Liga Champions. Seperti Suarez, Cavani juga menikmati banyak sekali kesuksesan untuk bermain di klub-klub yang sudah besar yang ada di seluruh bagian Eropa.

El Matador, ia sering sekali disebut dengan sebutan El Matador karena fisiknya dan juga ketenangan pada saat di depan gawang, ia telah memenangkan sebuah penghargaan dengan menjadi pencetak gol yang terbanyak di Serie A selama waktunya itu bersama Napoli, yang dimana Cavani mencetak sebanyak 104 gol dalam 138 penampilan yang ia miliki dan juga bersama dengan Paris Saint -Germain, telah mencetak sebanyak 200 gol dalam 301 pertandingan yang ia miliki.

Dari semua itu, yang ada di ajang Liga Champions, dari berbagai macam klub yang ia bela, Cavani telah mencetak sebanyak 35 gol. Tentu, ia masih berniat untuk menambahkan lagi jumlah golnya dengan klub barunya, yaitu bersama Manchester United.

Neymar – Paris Saint – Germain telah mencetak 35 gol

Neymar yang baru-baru ini mulai menyamai Ronaldo Nazario untuk mencetak sebuah gol yang akan dicetak bersama dengan tim nasional Brasil, dimana ia telah mencetak sebuah gol ke-62 untuk  Selecao.

Sementara itu, untuk level klub nya, pesepakbola penuh dengan gaya ini dan tidak perlu untuk diragukan lagi. Neymar ini selalu saja hampir tampil dengan agresif pada ajang Liga Champions, bersama dengan Barcelona dan juga PSG, Neymar ini mampu mengumpulkan sebanyak 35 gol pada saat pertandingan yang ada dan selama ia melakukan pertandingan sepak bola ia mampu untuk mencetak gol sebanyak itu dan ia juga berniat untuk menambahkan skor gol lagi untuk kedepannya.

Sergio Aguero – Manchester City sebanyak 46 gol

Striker yang berasal dari Argentina ini sangat produktif dan juga sangat berbahaya jika sudah di depan gawang, Aguero telah mencetak sebanyak 255 gol  dalam 372 penampilannya yang bersama Manchester City.

Pemenang dari Sepatu Emas Liga Premier ini pada tahun 2014-2015 adalah seorang pencetak gol yang paling terbanyak untuk kategori dari pemain non-Inggris. Aguero juga memegang sebuah rekor hattrick yang paling terbanyak pada Liga Premier, dengan memiliki sebuah catatan dua belas kali. Gol demi gol yang ia kumpulkan selama ini, termasuk diantaranya itu adalah sebuah gol yang ada di ajang Liga Champions, di mana Aguero telah mencetak sebanyak 46 gol. Dan kabarnya Aguero ini masih menginginkan untuk mencetak gol lebih banyak lagi nantinya dan terus menambah rekor yang ia miliki.

Thomas Muller – Bayern Munich telah mencetak 46 gol

Sebagai seorang pesepakbola yang modern, kemampuan pada Thomas Muller untuk menciptakan sebuah tembakan dan juga untuk mencetak gol yang sangat luar biasa. Ia telah mencetak kurang lebihnya sekitar 200 gol ketika ia bersama Bayern Munich.

Muller telah memenangkan 27 gelar saat ia bersama klub masa kecilnya itu, termasuk pada musim lalu ketika Bayern Munich telah merengkuh treble winner. Yang dimana Muller telah mencatatkan sebuah rekor sebanyak 21 assist, selain itu Muller juga telah mencatatkan gol yang ke-46 pada ajang Liga Champions pada saat ia melawan Barcelona dalam kemenangan yang didapatkan, ia mencetak gol  8-2 di perempat final. Dan sudah dipastikan lagi kalau Muller ini pasti masih ingin menambahkan skor gol yang ia akan raih nantinya.

Zlatan Ibrahimovic – AC Milan yang telah mencetak 49 gol

Kemampuan yang dimiliki oleh Zlatan Ibrahimovic ini telah membawanya ke tujuh liga yang berbeda-beda, dan juga pada tujuh negara yang berbeda pula, dan dia telah mencetak banyak sekali gol dimanapun dia bermain. King Ibra telah memenangkan segala permainan yang ia mainkan bersama klub, kecuali ia tidak mendapatkan sebuah trofi paling bergengsi yang ada di UEFA alias Liga Champions.

Tapi pencapaian gol nya itu di ajang tersebut anggaplah bisa menutupi aib dari kekalahan yang ia dapati pada saat itu. Saat ini Ibrahimovic duduk sejajar dengan Alfredo Di Stéfano, dengan mencetak sebanyak 49 gol, dan Ibra bisa saja unggul dalam hal ini karena masih aktif bermain sampai saat ini. Hanya saja, pada musim ini Ibra tak bisa berbuat apa-apa di Liga Champions ini, karena AC Milan tak masuk ke dalam daftar klub peserta Liga Champions yang akan mendatang. Tetapi kabarnya itu ia berniat untuk menambahkan skor gol yang ia miliki untuk lebih tinggi lagi.

Karim Benzema – Real Madrid telah mencetak 65 gol

Pada posisi penyerang yang murni ini, Karim Benzema agaknya adalah salah satu pemain yang paling sukses dalam sejarah yang ada di Liga Champions UEFA, tidak ada pemain yang memenangkan lebih banyak gelar lagi daripada yang ia miliki. Selama pada dekade yang terakhir ini, Benzema telah menjadi sumber gol yang paling konstan untuk Real Madrid, di ajang paling bergengsi itu, ia telah mencetak gol sebanyak 65 gol, hanya berkisar sekitar enam gol dari jumlah gol sang legenda yang ada di Real Madrid Raul Gonzalez yang telah mencetak angka sebanyak 71 gol.

Dengan apa yang sudah ia miliki sekarang ini, mudah saja bagi Benzema untuk menyusul. Karena ia masih menjadi pemain yang aktif dan juga kabarnya bahwa ia masih ingin terus menambah pencapaian cetak gol selanjutnya dan terus menambahnya selagi ia masih menjadi pemain yang aktif pada real madrid.

Cerita Mengenai pada saat Semifinal pada Liga Champions

Tahun lalu Liga Champion tepatnya di tahun 2016-2018 telah memasuki babak semifinal. Liverpool, Real Madrid, Bayern Munchen, dan juga ada AS Roma yang menjaga sebuah peluang untuk kemenangan itu digelar.

Liverpool akan menjadi tim yang paling pertama yang sudah lolos untuk masuk semifinal di Liga Champion. Pada pasukan Jurgen Klopp mengalahkan tim yang ada senegara, Manchester City lewat agregat 5-1 saat itu pertandingan dilakukan pada tanggal 11 April 2018 pada dini hari. Bagi pemain liverpool ini adalah sebuah keberhasilan nya sejak tahun 2008.

Lalu pada tim yang kedua itu dimenangkan oleh AS Roma. Lupo lolos dengan dramatis berkat keunggulan yang dimiliki dengan gol dari tendangan Barcelona.

Real Madrid dan juga Bayern Munchen lalu menyusul dari kedua tim tersebut setelah sehari setelahnya. Real Madrid telah ,menyingkirkan Juventus dengan cara yang dramatis juga dengan agregat 4-3. Sedangkan Munchen ini melenggang ke semifinal setelah memenangkan agregat 2-1 atas lawan nya Sevilla.

Undian semifinal dilakukan pada tanggal 13 April 2018 pada waktu setempat. Berikut ini ada beberapa fakta yang menarik jika kalian baca seputar Liga Champions.

Hanya Bayern Munchen yang jadi Juara Liga

Dari empat tim yang masuk ke semifinal, hanya bayern munchen lah yang menjadi juara di liga champion ini. Lalu Real Madrid, Liverpool dan juga AS Roma malah bukan menjadi juara pada liga domestik  dari setiap masing-masing.

FC Hollywood itu adalah sebuah julukan untung Munchen yang sudah memastikan bahwa sebuah gelar kejuaraan pada pekan lalu itu. Poin Munchen itu sudah tidak bisa lagi di kejar oleh tim tim yang memiliki peringkat yang kedua.

Munchen ini sudah unggul dengan 20 poin dari Schalke yang saat itu memiliki poin 52. Bundesliga Jerman sendiri juga telah memasuki pekan yang ke-29 dan hanya menunggu 9 pertandingan lagi untuk menyelesaikan semua pertandingan yang ada.

Real Madrid sesungguhnya masih memiliki sebuah peluang untuk menjadi juara pada Liga spanyol ini. Namun peluang tersebut ada sangat tipis karena Madrid tertinggal 15 poin dari barcelona pada puncak klasemen.

Sementara itu juga Liverpool dan juga AS Roma sudah dipastikan tidak akan memiliki sebuah peluang untuk menjadi juara. Gelar juara pada Liga Inggris sudah dipastikan akan menjadi milik Manchester City, sementara pada laga yang ada di Italia sedang diperebutkan oleh Juventus dan juga Napoli.

Warna Brasil

Para pemain Brasil ternyata sudah memenuhi keempat dari tim semifinal yang ada di liga Champions pada musim ini. AS Roma akan menjadi tim semifinal dengan jumlah pemain dari brasil terbanyak yaitu ada 3 pemain yang akan bergabung.

Pada Tiga pemain Brasil yang ada di AS Roma adalah kiper Alisson Becker, bek Juan Jesus, dan gelandang Gerson. Di belakang AS Roma itu ada Real Madrid dengan dua pemain yang berasal dari brasil yaitu Casemiro dan Marcelo.

Sementara itu, pada pemain Munchen dan Liverpool juga memiliki masing-masing memiliki satu pemain asal Brasil. Di Munchen itu ada sosok Rafinha yang hebat, sedangkan Liverpool memiliki pemain Roberto Firmino.

Produktivitas Liverpool

The Reds boleh saja untuk tidak lebih diunggulkan dari Real Madrid atau juga dengan Bayern Munchen. Namun pada tim asuhan Jurgen Klopp ini sudah tercatat sebagai sebuah tim yang terproduktif di Liga Champions musim ini.

Liverpool juga telah membukukan 33 gol yang ada pada Liga Champions pada musim ini. Real Madrid berada di peringkat yang ketiga dengan mencetak 26 gol, dan disusul juga oleh Munchen dengan mencetak 23 gol.

AS Roma ini menjadi semifinalis dengan jumlah gol paling sedikit yaitu 15 gol. Torehan gol Roma bahkan kalah dengan Paris Saint Germain (PSG) yang disingkirkan oleh Madrid pada Babak 16 Besar.

Le Parisien -julukan PSG- berada di peringkat yang kedua yaitu dibawah Liverpool dengan mencetak 27 gol.

Liverpool Tidak Terkalahkan

Selain menjadi tim yang terproduktif, Liverpool juga menjadi satu-satunya tim yang semifinalis nya itu belum menelan sebuah kekalahan pada Liga Champions pada musim ini. Ada tiga tim yang lain masing-masing itu pernah menelan satu kekalahan.

Real Madrid saat itu pernah mengalami kekalahan yaitu dengan skor 1-3 dari Tottenham Hotspur pada fase grup. Begitupun dengan Bayern Munchen yang digilas habis oleh PSG dengan skor 0-3 di pertandingan fase grup. Di sisi lainnya, AS Roma juga menelan sebuah kekalahan dengan skor 0-1 oleh Atletico Madrid.

Pada fase grup, Liverpool ini mencatatkan tiga kemenangan dan ketiganya itu hasil yang imbang. Tiga kemenangan itu adalah sebuah hasilkan atas Maribor sebanyak 2 kali, dan Spartak Moscow. Sementara itu ada tiga hasil imbang dipetik kala bertemu Sevilla sebanyak 2 kali dan Spartak Moscow.

Pep Guardiola dan Man City

Pada babak semifinal di Liga Champions ini akan dihelat dalam dua leg. Leg yang pertama itu akan berlangsung pada tanggal 26 dan 27 April pekan depan. Sementara itu leg yang kedua akan dihelat pada tanggal 3 dan 4 Mei. Sementara itu, pada partai final ini akan dilangsungkan di Stadion San Siro atau juga sering disebut dengan Stadion Giuseppe Meazza yang ada di Kota Milan, Italia pada tanggal 28 Mei.

Disisi lain, ada cerita menarik juga yang tercipta jika Bayern Munchen bertemu dengan Manchester City pada saat semifinal. Pusat perhatian itu akan tertuju pada sosok seorang pelatih Munchen, Pep Guardiola.

Seperti yang sudah diketahui, Manchester City ini telah resmi mengumumkan bahwa Pep Guardiola ini adalah manajer mereka untuk musim depan. Itu terjadi saat setelah Pep membuat sebuah pengakuan kepada publik bahwa ia berniat untuk hijrah ke Liga Inggris.

Pengumuman ini itu sempat menyulut sebuah kontroversi yang ada. Setelah pengumuman itu diberitakan, performa City di Liga Inggris menjadi sangat anjlok. Ada banyak yang menilai akan hal itu karena para pemain City sudah tidak lagi fokus karena memikirkan sebuah nasib mereka selanjutnya yang ada pada tangan Pep ini.

“Kami harus mengatasi situasi yang terjadi pada saat ini, akan tetapi akan sangat tidak mudah karena ada banyak yang spekulasi soal siapa pemain yang akan masuk dan keluar,” ini yang dikatakan oleh bek Manchester City, Pablo Zabaleta seperti yang dilansir Goal, pada maret lalu.

Guardiola sendiri belakangan sudah meminta maaf atas tindakan yang dilakukannya itu. Pep juga merasa ia telah memperkeruh situasi di Liga Inggris khususnya pada Manchester City. “Saya ingin meminta maaf karena selama saya menjalani karier sebagai seorang pelatih dan pemain juga, saya selalu menghormati rekan-rekan yang saya miliki. Bukan begitu maksud saya,” kata Pep yang sudah dilansir Guardian.

Negara Paling Sering Juara Liga Champions

 

Kompetisi bergengsi yang ada di dalam ajang Liga Champions tentunya menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi klub-klub yang ada di benua Biru tersebut, untuk bisa mendapatkan sebuah gelar juara. Terlebih selain membanggakan tim, mereka juga akan membanggakan negaranya masing-masing di dalam ajang Liga Champions.

Namun, saat ini kompetisi Liga Champions masih dihentikan akibat penyebaran pandemi virus corona yang sekarang ini sudah semakin menyebar luas di daratan Eropa. Terlebih seperti negara Italia dan juga Spanyol yang menjadi negara terdampak paling besar pada saat awal mula pandemi covid ini muncul.

Negara Paling Sering Juara Liga Champions

Hal ini juga membuat kompetisi ini pada akhirnya berhenti sementara waktu. Selain menyebabkan kerugian karena tidak adanya pemasukan dari beberapa pihak untuk tim mereka. Ini juga menjadi sebuah kerugian tersendiri bagi negara-negara yang telah menjadi perwakilannya bermain di Liga Champions. Tetapi pihak dari UEFA sendiri sudah menentukan jika kompetisi Liga Champions ini akan diselenggarakan kembali.

Para tim akan bertanding sejak awal bulan Agustus 2020 mendatang. kali ini masih menyisakan beberapa pertandingan yang ada di leg kedua babak 16 besar. Lalu jika dilihat dari awal hingga terlaksananya Liga Champions, negara mana saja yang timnya bermain di kompetisi tersebut dan berhasil mendapatkan trofi dari si kuping besar ? Berikut ini, beberapa negara yang paling sering menjadi Juara Liga Champions Eropa.

Spanyol (18 kali Juara)

Perlu diketahui, jika Spanyol merupakan sebuah negara paling banyak yang berhasil mendapatkan gelar juara di dalam ajang Liga Champions. Terhitung negara ini sudah berhasil mengumpulkan 18 kali gelar juara dalam 27 penampilannya di dalam kompetisi bergengsi Eropa tersebut.

Tim perwakilan dari Spanyol yang selalu mendapatkan gelar juara Liga Champions juga masih didominasi oleh dua tim, yakni tim Real Madrid dan Barcelona. Kedua tim ini yang berhasil menjadi pesaing di negara-negara lainnya dalam kompetisi Liga Champions tersebut.

Real Madrid yang sudah berhasil memenangkan 13 kali gelar juara selama mengikuti ajang kompetisi bergengsi di daratan Eropa tersebut. Sedangkan, untuk negara Barcelona yang hanya berhasil mengumpulkan 5 gelar juara dalam delapan kali penampilannya di ajang Liga Champions.

Inggris (13 Kali Juara)

Negara Inggris merupakan negara yang kedua setelah negara Spanyol dalam memenangkan kompetisi Liga Champions selama kompetisi tersebut dilaksanakan. Dari semuanya, mereka sudah berhasil mengumpulkan 13 kali gelar juara dan hal tersebut tersebar di beberapa tim di negara ini.

Sampai saat ini, baru Liverpool yang sudah berhasil menyumbangkan gelar juara paling banyak, terhitung enam kali mereka yang sudah meraih trofi si kuping besar. Di Posisi kedua yang dipegang oleh Manchester United dengan tiga kali gelar juara Liga Champions. Lalu sisa gelar lainnya yang dipegang oleh tiga tim, seperti Nottingham Forest dengan dua gelar. Chelsea dan Aston Villa yang masing-masing mendapatkan satu gelar juara. Lalu yang masuk ke dalam babak final dan meraih runner-up seperti tim Tottenham Hotspur, Arsenal dan leeds United.

Italia 12 kali Juara

Italia yang berhasil menjadi negara ketiga yang berhasil mendapatkan gelar dari juara Liga Champions. Mereka berhasil memenangkan 12 kali gelar juara. Dengan dominasi dari tiga klub raksasa di Serie A Italia seperti AC Milan, Inter Milan, Juventus.

AC Milan yang masih menjadi klub yang berhasil berkontribusi cukup besar di dalam meraih kemenangan terbanyak di ajang Liga Champions dan merupakan perwakilan dari Italia. Rossoneri berhasil mengumpulkan tujuh kali trofi si kuping besar. Lalu yang kedua adalah tim Inter Milan, mereka telah berhasil meraih tiga kali gelar juara di dalam ajang Liga Champions pada tahun 1964,1965, dan 2010. Lalu di posisi terakhir yaitu dipegang oleh Juventus dengan dua kali meraih trofi mereka pada 1985 dan 1996.

Jerman (7 kali Juara)

Meski seringkali mendapatkan sebuah gelar juara, klub perwakilan dari negara Jerman ini tidak bisa menjadi dominasi di kanca Eropa. Mereka yang hanya mampu mempersembahkan tujuh kali gelar juara di dalam 17 penampilannya. Bayern Munchen yang berhasil menjadi klub pertama perwakilan Jerman yang berhasil mempersembahkan banyak sekali gelar juara Liga Champions untuk membanggakan negaranya. Mereka berhasil memenangkan lima kali trofi Si Kuping Besar dengan 10 kali penampilannya tersebut.

Lalu dua gelar lainnya yang di persembahkan oleh Hamburg dan Borusiia Dortmund yang masing-masing telah menyumbang satu gelar juara. Dominasi Bayern tidak hanya di dalam ajang Liga Champions, melainkan di dalam kejuaraan Bundesliga Jerman sendiri.

Belanda (6 kali Juara)

Dari urutan lima teratas, Belanda yang berhasil menjadi negara kelima menyumbangkan trofi gelar juara dalam ajang Liga Champions dengan mengumpulkan sebanyak 6 trofi SI Kuping Besar. Dari enam gelar tersebut, terdapat juga tiga tim yang berhasil menyumbangkannya.

Sampai saat ini Ajax Amsterdam menjadi salah satu klub yang paling banyak menyumbangkan gelar juara di ajang Liga Champions sejak digulirkannya kompetisi bergengsi Eropa tersebut. Mereka berhasil menyumbang sebanyak empat trofi. Setelah itu terdapat dua klub yang lainnya, yakni Feyenoord dan PSV Eidhoven. Masing-masing klub berhasil menyumbang satu gelar juara Liga Champions untuk negara Belanda.

Portugal

Dari segi popularitas, Primeira Liga Portugal memang tidak seheboh dengan Ligue 1, Serie A, Primera Division, bahkan Premier League. Namun, peran dari liga sepakbola di Portugal tidak bisa dianggap remeh. Buktinya, pemain-pemain bintang di Eropa merupakan “produk” Primeira Liga. Mereka, antara lain, seperti David Luiz, Thiago Silva, Hulk, Ramires, hingga Diego Costa. Luiz, misalnya. Sebelum karirnya menjulang hingga meraih kemenangan dalam Liga Champions bersama dengan Chelsea, dia yang merupakan bek tangguh Benfica. Pemain timnas Brasil tersebut menghabiskan empat musim di negeri semenanjung Iberia tersebut. Portugal menjadi negara yang juga berhasil memenangkan ajang Liga Champions.

Liga Champions Eropa memang merupakan sebuah kompetisi yang cukup prestisius yang tiap edisinya selalu diperebutkan sejumlah raksasa besar dari Eropa. Para jawara yang ada di liga masing-masing seperti Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Bayern Munchen, dan beberapa klub lainnya.

Tekad kuat mereka untuk memenangkan trofi tahunan ini tidak hanya soal gengsi dan tingginya taraf dari turnamen tersebut saja, tapi juga keuntungan yang nantinya akan didapat lebih berlimpah. Tentu saja , sebagai penikmat olahraga yang satu ini, apalagi ajang Liga Champions Eropa, yang mempunyai hadiah yang cukup fantasist kepa para kontestan Liga Champions.

Demikian itulah beberapa negara-negara yang paling sering memenangkan ajang agen s128 dan Liga Champions. Beberapa tim besar dari negara tersebut berkontribusi besar sebagai juara ajang tahunan bergengsi tersebut. Liga Champions memang ajang yang selalu menarik untuk disaksikan, semoga pandemi saat ini cepat berakhir agar Liga Champions dapat kembali digelar.

Nama Pelatih Tersukses di Liga Champions

Seorang pelatih nantinya harus ikut bertanggung jawab cukup besar untuk dapat memenuhi setiap target yang nantinya akan rencanakan oleh pihak klub di awal musim. Bagi klub-klub besar sekelas Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, Juventus dan juga tim lainnya. Tentu saja target utama adalah piala Major, termasuk salah satunya trofi Liga Champions Eropa.

Tapi, tidak pernah mudah untuk bisa mencapai target juara Liga Champions Eropa, meski pemain-pemain yang ada di dalam tim sudah sangat meyakinkan. Walau begitu tercatat dalam sejarah, pelatih-pelatih eropa terbaik yang berhasil sukses di ajang Liga Champions Eropa.

Nama Pelatih Tersukses di Liga Champions

Liga Champions sendiri merupakan sebuah kompetisi paling elite yang ada di persaingan level klub sepak bola Eropa. Dengan nama-nama baru mulai pada musim 1992-1993, kompetisi yang dulunya bernama Piala Champions ini menyajikan sebuah persaingan seru penuh drama.

Banyak pelatih yang legendaris yang berhasil menghiasi kompetisi yang satu ini. Beberapa pelatih tersebut diantaranya telah berhasil memenangkan kompetisi lebih dari satu ajang Liga Champions Eropa, siapa sajakah mereka ? Berikut ini, adalah pelatih tersukses dalam ajang Liga Champions Eropa.

Bob Paisley

Raksasa dari Liga Primer Inggris, Liverpool, merupakan salah satu dari kolektor gelar Liga Champions Eropa terbanyak yang ada di dalam sejarah, dimana total mereka sudah mengoleksi 5 gelar juara di dalam ajang tahunan tersebut. Nah, tiga diantaranya dimenangkan pada saat Bob Paisley bekerja sebagai manajer mereka, tepatnya masa tersebut terjadi di tahun 1977,1978 dan 1981 saat itu masih Liga Champions yang masih berformat lama, European Cup.

Carlo Ancelotti

Manajer asal Italia ini juga masuk ke dalam daftar 10 Nama Pelatih Tersukses yang ada di dalam ajang Liga Champions Eropa, sebagaimana diketahui jika Carlo telah mengoleksi tiga trofi Liga Champions sepanjang karirnya sebagai seorang manajer sepakbola. Dua diantaranya dimenangkan pada saat ia menangani AC Milan di tahun 2003 dan pada 2007, sedangkan satu gelar lainnya yang berhasil dimenangkan saat menangani Real Madrid di tahun 2014.

Ancelotti yang berhasil meraih trofi pertama bersama Milan pada musim 2002-2003. Menghadapi Juventus di Stadion Old Trafford, Rossoneri menang dengan adu penalti, 3-2. Empat musim kemudian, giliran Liverpool yang dikalahkan oleh Ancelotti dan Milan dengan skor 2-1.

Zinedine Zidane

Dan yang bisa dikatakan pelatih yang paling fenomenal dibandingkan pelatih lainnya adalah Zinedine Zidane, dianggap sebagai seorang pelatih bola fenomenal. Karena yang bersangkutan berhasil membawa Real Madrid meraih tiga gelar Liga Champions Eropa secara beruntun pada tahun 2016, 2017 dan 2018. Hebatnya lagi, Zidane yang pada saat itu baru memulai karirnya sebagai seorang pelatih sepakbola.

Di final 2016, Real Madrid yang pada saat itu berhadapan dengan sang rival sekota Atletico Madrid. Imbang 1-1 hingga extra time, Real Madrid lalu berhasil menang lewat sebuah adu penalti 5-3. Di final 2017, Real Madrid yang berhasil menghajar Juventus 4-1. Di final 2018, Real Madrid yang pada akhirnya menumbangkan Liverpool 3-1.

Kemenangan di final 2018 itu pada akhirnya membawa Zidane sejajar dengan Bob Paisley dan juga Carlo Ancelotti, sebagai pelatih dengan tiga gelar juara European Cup/Liga Champions. Zidane yang bahkan menjadi pelatih pertama yang menjuarai kompetisi ini dalam tiga edisi secara beruntun.

Jose Villalonga

Real Madrid yang tercatat sebagai tim dengan gelar liga Champions Eropa terbanyak di dalam sejarah, total mereka sudah berhasil memenangkan 13 gelar di dalam kompetisi tahunan ini, dan dua diantaranya berhasil diraih pada tahun 1957 dan 1957 di bawah arahan dari manajer asal Spanyol, Jose Villalonga.

Luis Carniglia

Setelah Villalonga yang kemudian didepak dari kursi manajer, usai membawa Madrid memenangi dua trofi dalam Liga Champions Eropa secara beruntun, klub menunjuk Luis Carniglia. Manajer asal Argentina ini kemudian berhasil kembali membawa los Blancos menjuarai ajang Liga Champions Eropa di tahun 1958 dan 1959.

Bela Guttmann

Lebih dari dua dekade terakhir ini, Benfica yang memang sulit bersaing untuk meraih gelar juara dalam ajang Liga Champions Eropa, bahkan raksasa Liga Portugal tersebut juga sangat kesulitan menembus babak gugur. Tapi di masa lalu, Benfica yang merupakan salah satu raksasa Eropa yang ditakuti. Bela Guttman pernah mengantarkan klub tersebut menjuarai ajang Liga Champions Eropa dua edisi beruntun, tepatnya di tahun 1961 dan 1962.

Helenio Herrera

Dalam sejarahnya, raksasa Serie A italia, Inter Milan yang telah berhasil memenangkan tiga gelar juara Liga Champions Eropa. Terakhir kali mereka berhasil memenangkannya di tahun 2010 silam. Saat mencatat treble winner pertama di bawah arahan dari Jose Mournho. Sebelumnya, Inter memenangkan dua gelar yang ada di bawah arahan pelatih asal Prancis, Helenio Herera di tahun 1964 dan juga 1965.

Miguel Munoz

Pelatih yang sukses menangani Real Madrid memang seperti jadi kesempatan yang sangat spesial bagi setiap pelatih sepakbola. Sebagaimana komposisi skuat yang dimiliki oleh Los Blancos selalu berhasil menghadirkan berbagai gelar-gelar juara. Tidak terkecuali bagi Miguel Munoz yang sukses mengantarkan Madrid meraih sebuah gelar Liga Champions yang ada di tahun 1960 dan 1966.

Nereo Rocco

AC Milan jadi salah satu klub Serie A italia dengan gelar Liga Champions terbanyak yang ada di dalam sejarah, dimana total mereka telah berhasil memenangkan tujuh gelar di dalam kompetisi tahunan tersebut. Dua diantaranya dimenangkan pada saat Nereo Rocco menjadi pelatih di tahun 1963 dan 1969.

Ottmar Hitzfeld

Ottmar Hitzfeld menjadi seorang pelatih pertama yang berhasil menjuarai ajang Liga Champions bersama dengan dua klub berbeda. Ia yang berhasil mempersembahkan gelar pertama untuk Bayern Munchen di era Liga Champions pada tahun 2001, empat tahun setelah melakukan hal yang sama dengan Borussia Dortmund. Pelatih berusia 71 tahun ini mempunyai karir yang cukup panjang dan mempesona di Bundesliga dan internasional.

Setahun setelah kalah dari Juventus di dalam lagi final Liga Champions 1996, pasukan Hitzfeld membalikkan keadaan di Bianconeri ketika Borussia Dortmund berseteru dengan juara bertahan di dalam pertandingan perebutan gelar pada musim selanjutnya.

Sir Alex Ferguson

Salah satu manajer paling legendaris di dalam ajang ini yaitu, Sir Alex Ferguson. Telah berhasil memenangkan banyak gelar selama hampir empat dekade karir manajernya. Sembilan tahun setelah memenangi treble kontinental bersama dengan Manchester United pada tahun 1999, arsitek asal Skotlandia itu berhasil memenangi gelar dalam Liga Champions keduanya. Setelah berhasil mengalahkan Chelsea di final serba Inggris di Moskow. Kemenangan Ferguson di ibu kota Rusia membuatnya menjadi seorang manajer tertua yang berhasil memenangkan Liga Champions, sebelum rekornya dipecahkan lima tahun kemudian.

Demikian itulah platih-platih terbaik yang paling sering menjuarai ajang liga Liga Champions Eropa. Nama-nama pelatih legendaris tersebut selalu diingat dalam ajang bergengsi tersebut.

Sejarah Liga Champions Eropa

UEFA Champions League atau yang dikenal juga dengan nama Liga Champions adalah sebuah kompetisi yang ada antarklub terbaik yang terdapat di benua Eropa. Kompetisi ini juga diselenggarakan oleh UEFA yang selalu memberikan otoritas sepak bola tertinggi di Eropa. Pesertanya juga merupakan semua tim-tim terbaik yang ada di benua biru. Liga Champions merupakan sebuah ajang atau sebuah turnamen klub agen judi bola yang paling bergengsi yang ada di Eropa atau bahkan yang ada di dunia. Pertama kali turnamen ini diadakan yaitu di tahun 1955, pada saat masih bernama European Champions Clubs’ Cup. Berikut ini adalah beberapa informasi yang sudah kami rangkum untuk mengenai sejarah Liga Champions Eropa dari awal mula liga tersebut berdiri hingga sekarang menjadi sebuah ajang antar club sepak bola bergengsi.

Sejarah Liga Champions Eropa

Kompetisi yang ada antarklub di benua Eropa pertama yaitu adalah Challenge Cup. Turnamen tersebut adalah sebuah turnamen yang berhasil mempertemukan klub yang ada di wilayah Austria dan Hungaria. Kemudian terdapat juga turnamen Mitropa Cup yang pertama kali diselenggarakan yaitu pada tahun 1927. Mitropa Cup kemudian berhasil mempertemukan klub klub dari tim yang berada di kawasan Eropa Tengah saja. Di tahun 1930, turnamen antar klub Eropa ini kemudian kembali digelar dengan nama Coupe des Nations pada saat itu turnamen tersebut diadakan di Swiss yang kemudian berhasil mempertemukan juara dari 10 liga berbeda yang ada di Eropa. Klub asal Hungaria, yaitu Ujpest yang telah berhasil menjadi juara turnamen tersebut.

Tahun 40an, upaya membentuk sebuah turnamen yang ada antar klub Eropa kembali dengan diadakannya sebuah turnamen Latin Cup, khusus untuk negara yang berada di kawasan Eropa latin seperti halnya Italia, Prancis, Spanyol dan juga Portugal. Turnamen ini adalah sebuah turnamen yang diadakan antara 1949 sampai dengan 1957.

Meski pada saat itu banyak turnamen antar klub Eropa yang juga diadakan, seperti halnya Challenge Cup, Mitropa Cup, Coupes des Nations atau juga Latin Cup, namun tidak ada yang kejuaraan atau turnamen yang benar-benar mewakili seluruh kawasan Eropa. Turnamen tersebut hanya melibatkan beberapa negara saja dan juga merupakan sebuah turnamen yang dikelola ala kadarnya.

Awal Mula Dibentuk

Pada tahun 1948, klub klub yang merupakan asal Amerika Selatan kemudian mengadakan sebuah turnamen Campeonato Sudamericano de Campeones. Turnamen tersebut adalah sebuah turnamen yang ternyata sukses besar dan kemudian menjadi awal dari turnamen yang berasal dari Copa Libertadores. Hal tersebut lah yang kemudian mendorong editor majalah L’Equipe pada saat itu Gabriel Hanot, untuk mengusulkan sebuah proposal diadakannya sebuah turnamen klub dengan skala besar yang ada di Eropa. Di awal tahun 50an, klub Inggris Wolverhampton yaitu Wanderers lewat pelatihnya pada saat itu di Stan Cullis, mendeklarasikan diri sebagai sebuah klub terbaik yang ada di dunia setelah berhasil memenangkan berbagai pertandingan uji coba untuk melawan klub negara tersebut.

Terutama pada saat mengalahkan sebuah klub Hungaria yaitu Budapest Honved pada tahun 1954. Hal tersebut yang juga kemudian ditentang oleh banyak pihak, termasuk juga oleh Gabriel Hanot. Ia yang pada saat itu mengatakan bahwa Wolverhampton belum layak menjadi klub terbaik, karena masih ada beberapa klub klub hebat lainnya seperti Real Madrid atau juga AC Milan. Kondisi ini yang kemudian membuat UEFA setuju untuk mengadakan sebuah turnamen yang ada antar klub Eropa. Turnamen tersebut dikhususkan sebagai sebuah ajang pembuktian klub terbaik. Kongres UEFA yang berlangsung di Paris pada tahun 1955 pun kemudian setuju mengadakan sebuah turnamen yang diberi nama European Champion Clubs’ Cup atau yang biasa disebut dengan European Cup saja.

Liga Champions Pertama

Kompetisi European Cup yang pertama pun akhirnya dimuali diselenggarakan oleh UEFA yaitu pada musim 1955-1956. Total sebanyak 16 klub yang berasal dari 16 negara, beberapa club yang pada saat itu ikut berpartisipasi, yaitu:

  • AC Milan (Italia)
  • AGF Aarhus (Denmark)
  • Anderlecht (Belgia)
  • Djurgarden (Swedia)
  • Gwardia Warszawa (Polandia)
  • Hibernian (Skotlandia)
  • Partizan (Yugoslavia)
  • PSV Eindhoven (Belanda)
  • Rapid Wien (Austria)
  • Real Madrid (Spanyol)
  • Rot-Weiss Essen (Jerman Barat)
  • Saarbrucken (Saarland)
  • Servette (Swiss)
  • Sporting CP (Portugal)
  • Stade de Reims (Prancis)
  • Voros Lobogo (Hungaria)

Pertandingan dari European Cup pertama, yaitu terjadi tanggal 4 september 1995 antara Sporting CP melawan Partizan dengan sejumlah skor akhir yaitu 3-3. Gol pertama yang di cetak di kompetisi eropa ini dicetak oleh pemain Sporting CP, yaitu Joao Baptista Martins. Dan pada akhirnya, klub Spanyol, yaitu Real Madrid yang kemudian berhasil meraih sebuah gelar juara Eropa pertama dengan mengalahkan Stade de Reims pada babak final, yaitu dengan skor 4-3.

Kompetisi ini pun kemudian menjadi sebuah kompetisi yang terus digelar setiap tahun. Pada tahun 1992-1993, kompetisi ini kemudian berubah nama menjadi UEFA Champions League atau yang kita kenal dengan sekarang ini sebagai Liga Champions UEFA. Hal tersebut juga tentunya dengan diiringi perubahan format. Tim pertama yang kemudian menjadi juara di format Liga Champions adalah Olympique Marseille dari Prancis. Hingga saat ini, Real Madrid menjadi sebuah klub tersukses yang ada sepanjang sejarah Liga Champions karna menjadi club dengan juara terbanyak.

Real Madrid yang telah sukses meraih 5 gelar dalam ajang Liga Champions. Awal secara beruntun dan kemudian menjadi klub juara Liga Champions terbanyak dari dulu hingga sekarang. Dalam daftar juara Liga Champions Eropa, klub lain yang juga pernah beberapa kali meraih juara adalah AC Milan (Italia), Bayern Munchen (Jerman), Barcelona (Spanyol)Liverpool (Inggris), dan Ajax Amsterdam (Belanda).

Tentang Trofi Liga Champions

Trofi ini adalah sebuah trofi yang dirancang oleh Jurg Stadelmann, merupakan seorang seniman asal kota Berne, Swiss yang ternyata kantornya pada saat itu sangat dekat dengan kantor pusat UEFA. Menariknya adalah, trofi ini dibayar senilai 10.000 frans atau senilai Rp 142 triliun untuk merancang ulang trofi yang ada di tahun 1967. Sekarang ini, trofi Liga Champions yang merupakan sebuah versi kelima dari desain lama karena trofi asli dipegang oleh Real Madrid pada saat tahun 1967. Nama julukan trofi tersebut adalah Si Kuping Besar atau La Oregona.

Nama unik tersebut adalah nama yang berasal dari para fans sepakbola di spanyol dan merasa bahwa pegangan trofi tersebut cukup besar menyerupai telinga. Trofi ini juga terbuat dari percampuran 92,5 persen perak murni dan juga 7,5 persen tembaga lho. Klub yang pertama yang sudah menerima prestasi dari redesign yang ada di tahun 1967 adalah Ajax. Klub ini, adalah klub yang telah mendapatkan juara sebanyak tiga kali pada Liga Champions di tahun 70-an.

Demikian itulah sejarah panjang mengenai Liga Champions dari saat berdiri hingga sekarang. Perkembangan dari awal kemunculannya Liga Champions hingga sekarang ini menjadi sebuah hal yang cukup besar. Terutama banyak sekali club-club ternama dunia yang bertanding di liga tersebut.

Pemain Yang Belum Pernah Menang Dalam Liga Champions

 

Memenangi sebuah Liga Champions adalah sebuah cara yang menjadi sebuah pencapaian tertinggi yang dapat diraih oleh para pesepak bola profesional di Eropa. Selain ajang Piala Dunia ajang Liga Champions adalah sebuah ajang yang tidak kalah bergengsi juga. Meraih gelar juara dari Liga Champions tentunya bukan sebuah hal yang mudah. Bahkan ada beberapa pemain yang sudah cukup senang dengan bermain di dalam Liga Champions. Drama, adu kekuatan, kualitas, serta pengalaman ini menjadi sebuah hal yang akan tersaji di turnamen antarklub terbaik yang ada di Eropa tersebut. Menjadi sebuah hal yang sudah berlangsung sejak tahun 1992.

Pemain Yang Belum Pernah Menang Dalam Liga Champions

Pengalaman bermain di dalamnya menjadi sebuah hal yang tidak dapat tergantikan bagi para pemain yang telah ikut berpartisipasi di dalam ajang tersebut. Real Madrid yang masih menjadi raja Eropa, hal tersebut dibuktikan melalui raihan 13 titel Liga Champions yang telah diikuti, lalu oleh AC Milan (tujuh titel) dan oleh Liverpool (enam titel). Pemain yang pernah berhasil untuk menjuarainya juga cukup beruntung, karena dapat meraih trofi Si Kuping Besar tersebut. Akan tetapi ada beberapa pemain atau juga beberapa legenda dari sepak bola Eropa yang tidak beruntung dapat menjuarai Liga Champions. Siapa sajakah sosok tersebut ? Berikut ini kami sudah merangkum para pemain top, namun belum pernah menjuarai Liga Champions.

Zlatan Ibrahimovic

Saking seringnya Zlatan Ibrahimovic gagal untuk dapat memenangi Liga Champions maka sampai muncul sebuah istilah tim yang dibelanya tidak akan dapat menjuarainya selama ada dirinya. Ironis, pasalnya adalah Ibrahimovic merupakan salah satu striker top asal Eropa yang bahkan saat ini masih menjadi seorang yang prima dan masih bermain pada usia 38 tahun dengan club AC Milan.

Ibrahimovic dirinya juga sudah sering meraih trofi liga dengan beberapa klub-klub yang pernah dibelanya yaitu dari Juventus, Inter Milan, FC Barcelona, AC Milan, hingga yang terakhir PSG (Paris Saint-Germain), namun baru pada tahun 2017 dirinya yang berhasil meraih sebuah trofi Eropa pertamanya. Yaitu yang berlangsung pada Liga Europa dengan Manchester United. Titel Eropa tersebut bukan berasal dari Liga Champions namun bisa menjadi sebuah hiburan baginya. Karena Zlatan Ibrahimovic tidak pernah menjadi juara di Eropa. Kutukan yang unik jika harus mengingat kualitasnya pada saat bermain.

Ronaldo

Bukan Cristiano Ronaldo karena dirinya sudah meraih lima titel yang ada di dalam Liga Champions. Melainkan sosok Ronaldo yang menjadi ikon dari sepak bola Brasil dan juga menjadi legenda bagi Barcelona, Inter Milan, dan juga Real Madrid. Dalam kondisi prima kualitasnya yang tidak perlu diragukan lagi dalam dunia sepak bola.

Ronaldo yang mengkombinasikan sebuah ketajaman pada saat mencetak gol. Dengan sebuah keahlian untuk dapat mendribel bola ala khas Negeri Samba tersebut. Ronaldo yang saat ini menjadi Presiden dari Real Valladolid, dirinya sudah memenangi LaLiga dan juga dua Piala Dunia dengan Brasil. Namun titel Liga Champions ternyata adalah sebuah titel yang hingga kini belum Ronaldo raih. Trofi Eropa yang pernah diraihnya yaitu adalah UEFA Cup Winners’ Cup dan juga Piala UEFA (format sebelum adanya Liga Europa).

Fabio Cannavaro

Legenda Parma dan juga club Juventus ini ternyata pernah menjuarai sebuah titel Piala Dunia yang ada pada tahun 2006. Bersama dengan timnas Italia pada saat itu. Pada eranya Fabio Cannavaro yang merupakan bek yang cukup komplit dengan tingkat kedisiplinan yang bagus. Fabio Cannavaro adalah seseorang yang merupakan seorang yang memiliki sebuah jiwa kepemimpinan, serta juga memiliki taktis ketika bertahan serta membaca serangan dan gerak dari permainan lawan.

Tidak banyak lawan yang dapat melaluinya di dalam sebuah kondisi prima. Namun dalam 19 tahun karirnya Cannavaro adalah seorang yang tidak pernah menjuarai Liga Champions. Dan dirinya juga merupakan satu-satunya titel Eropa yang memenangkan Piala UEFA bersama dengan FC Parma pada 1999.

Gianluigi Buffon

Gianluigi Buffon merupakan seorang yang sudah tiga kali bermain di Liga Champions, yaitu pada tahun 2003, 2015, dan 2017, serta juga kiper legendaris Juventus dan Italia yang kalah di final dan urung menjadi juara. Seperti yang sudah diungkapkan oleh Gianluigi Buffon bahwa dirinya ingin mengakhiri karirnya tersebut dengan kemenangan besar. Saat 12 tahun lalu dirinya pernah memenangi Piala Dunia namnun dirinya kalah tiga kali di dalam final Liga Champions. Hal tersebut diungkapkan oleh Buffon pada 2017 ketika dirinya mengumumkan dirinya pensiun. Akan tapi rasa penasaran menjadi salah satu hal yang disinyalir masih dirasakan Buffon, dan kemudian pada akhirnya dirinya bermain semusim bersama dengan PSG dan kini kembali membela Juventus disaat dirinya sudah berusia 42 tahun.

Patrick Vieira

Legenda Arsenal yaitu merupakan salah satu dari gelandang top yang ada pada eranya. Patrick Vieira memiliki sebuah kemampuan bertahan untuk dapat melakukan sebuah transisi bermain dengan cukup baik. Patrick Vieira juga sudah memenangi tiga titel Premier League, tiga Piala FA, dan dirinya juga sempat Scudetto. Serta dirinya yang sudah berhasil di Piala Dunia dan Piala Eropa dengan timnas Prancis namun dirinya belum memiliki trofi Liga Champions.

Uniknya Vieira meninggalkan club Inter setelah dirinya bermain selama empat tahun di club tersebut. Mungkin dirinya pada saat itu bermain pada momen yang tidak tepat. Vieira kemudian pindah ke Manchester City pada 2010 dan di tahun yang sama Inter yang kemudian mengukir sejarah treble winners di dalam era kepelatihan Jose Mourinho.

Michael Ballack

Michael Ballack mengalami sebuah situasi yang suram yaitu pada musim 2001-2002. Ballack yang kemudian gagal membantu Bayer Leverkusen untuk dapat meraih gelar Bundesliga, DFB-Pokal, Liga Champions, dan juga gelar Piala Dunia. Michael Ballack yang harus puas membawa Leverkusen dan untuk Timnas Jerman yang harus puas meraih posisi runner-up. Di dalam semua kompetisi yang telah diikuti pada musim tersebut. Dengan penampilannya pada saat itu bersama Bayer Leverkusen, Ballack kemudian dipinang Bayern Munchen. Bersama Die Bayern, Ballack yang kemudian mampu meraih tiga gelar Bundesliga dan juga berhasil untuk dapat memperoleh dua trofi DFB Pokal.

Saat Ballack kemudian pindah ke Chelsea, harapan untuk dapat mengangkat sebuah tite dari Liga Champions menjadi terbuka lebar. Namun, The Blues yang tetap tidak tak mampu memenangkan sebuah laga puncak dalam musim 2007 sampai dengan 2008, karena kalah dalam adu penalti bersama dengan Manchester United.

Lothar Matthaus

Lothar Matthaus yang juga sudah berhasil untuk dapat meraih gelar bergengsi selama dirinya menjadi seorang pesepak bola. Gelandang legendaris Jerman tersebut pernah merasakan titel juara piala dunia 1990 sebagai pemain terbaik Jerman, pemain terbaik Eropa dan pemain terbaik Dunia. Namun, Matthaus yang ternyata tidak dapat melengkapi tinta emasnya di Eropa tersebut karena gagal meraih sebuah gelar dalam Liga Champions 1998 sampai 1999. Dalam laga final yang sudah berlangsung di Camp Nou yaitu pada 26 Mei 1999, The Bavarians kalah 1 sampai dengan 2 dari Manchester United. Dihasilkan lewat gol injury time Teddy Sheringham juga Oleh Gunnar Solskjaer.

Demikian itulah beberapa nama-nama pemain hebat yang sudah memenangkan banyak gelar, namun belum berhasil mendapatkan kemenangan di dalam Liga Champions. Namun, prestasi dan kemampuan mereka sebagai pesepak bola tidak perlu diragukan lagi.

Pemain yang Memenangkan Trofi Liga Champions Berturut

Liga Champions yang dimana sekarang ini sendiri telah menjadi salah satu yang juga menjadi sebuah kompetisi yang dimana paling bergengsi yang ada di sepak bola Eropa selama lebih dari enam dekade. Setiap pesepak bola yang dimana pastinya mereka akan bermimpi untuk dapat bermain di kompetisi ini. Liga Champions yang dimana juga tidak hanya menawarkan sebuah beberapa keuntungan yang ada di dalam finansial yang dimana sangat menggiurkan. Tetapi, juga untuk pengalaman tentang bermain tentang sepak bola di sebuah level yang dimana juga paling tinggi. Banyak juga pemain luar yang dimana juga pada biasa yang dimana juga bermain di daftar sbobet88 dalam sebuah kompetisi ini juga selama bertahun-tahun.

Pemain yang Memenangkan Trofi Liga Champions Berturut

Mereka yang dimana juga untuk memberikan pertunjukkan yang juga tidak akan pernah bisa untuk dapat dilupakan. Namun, juga hanya sedikit yang ada dari mereka yang dimana juga dapat mengangkat sebuah trofi dari Liga Champions. Hanya dalam beberapa pemain yang dimana jua bisa memenangkan sebuah trofi yang dimana juga sangat bergengsi tersebut secara berurutan namun dalam klub yang berbeda. Dalam artikel ini akan dibahas beberapa pemain yang memenangkan trofi Champions secara berurutan yang dimana sudah kami rangkum dalam artikel di bawah ini.  Penasaran siapa saja pemain 

Marcel Desailly ( Marseille & AC Milan)

Marcel Desailly  dimana dirinya adalah pemain yang bermain dalam skuad Marseille yang dimana  terkenal sudah dapat mengalahkan AC Milan dengan nilai 1-0 di final Liga Champions pada tahun 1993. Menariknya,  Marcel Desailly adalah salah satu pemain yang bergabung dengan Rossoneri untuk sebuah musim berikutnya. Gelandang yang berasal dari Perancis itu  juga merupakan pemaian yang kemudian langsung mendapat tempat di lini tengah  di club AC Milan. Desailly yang juga  mencetak gol saat Rossoneri dengan menang 4-0 atas di Barcelona di  dalam final Liga Champions pada tahun 1994.

Faktanya, Desailly adalah sendiri adalah seorang pemain pertama  yang dimana namanya sendiri ada dalam sejarah sebagai orang yang telah berhasil untuk dapat  memenangkan Liga Champions yaitu dua kali berturut-turut dengan menggunakan dua klub berbeda. Setelah memenangkan dua gelar Serie A bersama  dengan klub AC Milan, Desailly sendiri yang dimana dirinya diketahui menjadi salah seorang pemain yang bergabung dengan Chelsea yaitu pada 1998. Dia juga mengadopsi pemain defensif yang ada dalam sentral di Stamford Bridge, sambil dirinya juga menjadi seorang kapten dan juga dirinya yang dapat memenangkan Piala FA pada 2000. Marcel Desailly yang kemudian pensiun pada 2005 setelah dirinya bermain semusim di Qatar. 

Paulo Sousa ( Juventus & Borussia Dortmund)

Paulo Sousa juga menjadi pemaian yang juga sudah berhasil memangakan dan membawa club nya sebagai pemegan trofi Liga Champions secara berturut. Paulo Sousa  yang dimana dirinya telah menjadi pemain yang dapat memenangkan trofi dari ajang Liga Champions secara berturut-turut  yang dimana dirinya berada antara 1996 dan juga tahun 1997. Mantan pemain Timnas Portugal itu  juga yang dimana menjadi salah satu permainan pertama kali yang sudah berhasil  mengangkat trofi bergengsi tersebut bersama  dengan klub Juventus. Sousa  yang dimana pada saat itu menjadi salah satu pemain  yang dimana dirinya berhasil membawa Juventus sendiri untuk dapat mengalahkan Ajax yang dimana hal ini sendiri di menakan melalui adu penalti  yang ada dalam laga final di Roma, di Italia.

Paulo Sousa yang kemudian pindah ke Borussia Dortmund dengan sebuah biaya transfer  pada saat itu 3,60 juta euro. Meski sempat kesulitan  pada saat di awal musim, Paulo Sousa yang kemudian akhirnya mampu tampil solid bersama  dengan Dortmund. Dan yang terpenting di final Liga Champions pada saat melawan Dortmund. Paulo Sousa yang  bermain 90 menit penuh  pada saat Dortmund mengalahkan Juventus pada saat berada di final Liga Champions. Dimana Pada saat itu juga adalah trofi Liga Champions pertama untuk Dortmund. Sousa  yang dimana saat ini sudah pensiun dan dirinya sekarang ini melatih Bordeaux di Ligue 1 Prancis.

Gerard Pique (Manchester United & Barcelona)

Gerard Pique  dimana dirinya yang merupakan Bek andalan club Barcelona ini  yang dimana dirinya juga pernah menjalani dan juga dirinya yang juga menjadi pemain Akademi Barcelona yaitu pada 1997-2004 lalu pada saat hengkang ke Manchester United. Pada tahun 2008, Pique  yang dimana pada saat itu dirinya kembali ke Barcelona dan mengisi pertahanan pada skuad Blaugrana hingga pada sekarang. Baru keluar dari sebuah akademi muda Barcelona, ​Gerard ​Pique yang kemudian pada saat itu menandatangani kontrak dengan Manchester United (MU) yang pada kesepakatan  itu di bayar € 5,25 juta. Itu bayaran yang memang cukup besar, mengingat  pada saat itu Gerard Pique sendiri yang dimana usianya baru 17 tahun saat itu. Tetapi, Pique yang kemudian gagal mendapat tempat di skuat di utama MU.

Manajer MU Sir Alex Ferguson yang dimana pada saat itu lebih percaya kepada dua bek tengah andalannya, di isi oleh Rio Ferdinand dan juga  Nemanja Vidic. Meski tak bermain saat MU mengalahkan tim Chelsea di final Liga Champions 2008, Pique sendiri yang dimana menjadi pemain yang berhasil mendapatkan medali pemenang pada saat itu. Gerard Pique yang pada saat itu dirinya yang kembali ke Barcelona pada tahun berikutnya dan pada saat itu juga langsung menjadi pemain reguler di bawah pep Guardiola. Gerard Pique yang dimamna kemudian dirinya memainkan perbandingan penuh dalam kemenangan Barcelona 2-0 atas MU yang ada di final Liga Champions 2009. Gerard Pique yang dimana juga menjadi salah satu yang telah memenangkan empat trafo pada Liga Champions. 

Samuel Eto’o (Barcelona & Inter Milan)

Samuel Eto’o Pira yang dimana  Samuel Eto’o sendiri adalah pemain yang berusia 39 tahun ini adalah permainan yang sebelumnya disingkirkan oleh Guardiola dari Barcelona setelah bermain dalam lima musim di sana. Lalu pemain asal Kamerun itu yang kemudian pindah ke Inter Milan dan  dimana pada saat dirinya di tim tersebut dimana dirinya langsung meraih treble winners  yang ada bersama Mourinho. Samuel Eto’o yang juga dianggap salah satu pemain Afrika terbesar sepanjang masa.  Samuel Eto’o yang dimana dirinya sendiri pertama kali datang ke Eropa melalui skuat muda yang ada di Real Madrid sebelum dirinya menikmati gol  yang ada dan juga musim yang sarat trofi dengan Barcelona yaitu antara 2004 dan juga  2009. Eto’o yang dimana berhasil mencetak 130 gol untuk Blaugrana yang pada saat itu hanya dalam 199 penampilan di dalam semua kompetisi. Selain itu, 

Samuel Eto’o sendiri yang juga sempat membantu klub Catalan memenangkan delapan trofi, termasuk juga yang ada dalam tiga gelar La Liga Spanyol dan juga dua mahkota yang ada dalam Liga Champions. Eto’o  yang dimana berhasil mencetak gol di dalam kedua final Liga Champions untuk Blaugrana dengan  sebuah gol pembuka pada menit ke-10 pada saat itu ketika melawan Manchester United pada tahun 2009. Sukses itu membawa tim asuhan dari Pep Guardiola ini berada di jalur menuju treble winner yang sangat luar biasa.

Demikian itulah beberapa pemain yang sudah berhasil membawa tim mereka yang berbeda dan pemaian yang menang dalam Liga Champions secara berturut. Dimana walaupun para pemain-pemain  tersebut memenangkan liga tersebut dengan tim yang berbeda-beda, namun keahlian mereka tentunya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Semoga informasi ini dapat memberikan informasi untuk anda. Terimakasih.